bungkus rokok

Kisah Remaja 90-an Belajar Wirausaha dari Berdagang Bungkus Rokok

Di era tahun 90-an, ada permainan seru yang dimainkan remaja masa itu. Permainan yang menggunakan bungkus rokok. Biasanya bungkus rokok diberi nilai berbeda seperti mata uang saja. Semakin langka jenis bungkus rokok maka nilainya semakin tinggi.

rokok

Selain itu, bungkus rokok menjadi barang koleksi remaja saat itu. Ketika koleksinya unik, maka bungkus rokok bisa bernilai tinggi. Tak jarang terjadi pertukaran antar bungkus rokok karena seseorang ingin melengkapi koleksinya.

bungkus rokok

Hobi ini heboh, kata orang sekarang menjadi “trendingtopic”. Lantaran hebohnya, remaja masa itu sudah layaknya “Indiana Jones” yang pergi menjelajahi pelbagai tempat untuk mengumpulkan harta karunnya yakni bungkus rokok unik. Berbagai tempat sampah diaduk-aduk untuk mencari bungkus rokok.

rokok

Dari kegemaran ini terjadi transaksi di antara kolektor. Hal itulah yang membuat banyak anak-anak masa itu belajar ilmu berbisnis. Seperti kesaksian Adica Wirawan, yang kini menjadi pendiri gerairasa.com. Pelajaran berbisnis pertamanya tatkala menjual koleksi bungkus rokok langkanya, yakni rokok Commodore yang dijualnya kepada teman satu sekolahnya.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

bungkus rokok

Sugesti Rasa Rokok Berdasarkan Kemasan Rokoknya

Soal sugesti pasa rasa memang sulit diperdebatkan. Hal itulah pula yang terjadi pada rokok. Seorang perokok yang terbiasa mengkonsumsi rokok pada kemasan rokok isi dua belas akan menganggap rokok yang sama tapi isi enam belas akan lain rasanya. Meskipun secara bahan baku dan produksinya dilakukan secara secara bersamaan. Hanya kemasan pembungkus yang membedakan di antara keduanya. Satu berisi dua belas dan satunya lagi berisi enam belas.

Tetapi, seorang perokok yang fanatik terhadap kemasan rokok merek tertentu yang berisi dua belas apabila diberi rokok merek yang sama tapi berisi enam belas, maka dia akan mikir-mikir sebentar untuk mengambilnya. Begitu pula sebaliknya.

rokok

Tak hanya dari edisi jumlah isi pada kemasan, masalah desain pun kadang juga memberikan sugesti rasa yang cukup signifikan. Dulu, ketika Rokok gudang garam mengeluarkan kemasan edisi piala dunia, banyak orang yang mengatakan bahwa rasa rokok tersebut berbeda dengan rokok pada edisi kemasan yang biasa. Padahal, sama sekali tidak ada perubahan terhadap rokoknya, hanya kemasannya saja.

orang merokok

Hal tersebut juga terjadi sewaktu Djarum mengeluarkan kemasan edisi Djarum Adventure, banyak yang menganggap rasanya berbeda dengan kemasan yang biasa. Padahal ya sama saja.

Yah, namanya juga sugesti yang berbalut fanatisme. Unik, namun tak bisa disangkal keberadaannya.

bungkus rokok

Hanya saja, keadaan kadang membuat fanatisme itu runtuh apabila kebetulan rokok yang biasa diisap ternyata sudah tandas. Keadaan ini yang membuat perokok tersebut cenderung bersedia merokok dari kemasan berbeda, bahkan merek lain dari yang biasa dikonsumsi.

Terlebih rokok kemasan atau merek lain itu hasil berbagai dengan teman satu tongkrongan.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

bungkus rokok

Pamit Beli Rokok, Ternyata Nonton Bola ke Rusia

Kecintaannya terhadap sepakbola membuat Antonio Garcia, seorang lelaki berkebangsaan Meksiko, nekat membohongi istrinya. Bohongnya tidak main-main, ia pergi ke Rusia untuk menonton timnas Meksiko melawan Rusia di ajang Piala Konfederasi, padahal kepada istrinya, ia pamit untuk membeli rokok.

rokok

“Saya memberi tahu istri saya, saya akan pergi ke Oxxo (toko ritel populer di Meksiko) untuk membeli rokok, tapi saya tidak memberi tahu Oxxo yang mana,” kilahnya.

bungkus rokok

Perjalanan ke Rusia itu tidak hanya konyol, tetapi juga bisa menjadi bencana finansial, sebab uang yang digunakan untuk melakukan perjalanan tersebut adalah uang tabungan keluarga.

“Yang penting bisa dekat dengan timnas,” katanya, seperti dikutip laman Odditycentral.

Gara-gara tingkahnya itu, Garcia sempat menjadi perbincangan nitizen di Rusia. Tapi bukannya mengingatkan akan dimarahi sang istri ketika kembali ke Meksiko, mereka justru salut dengan nasionalisme Garcia.

rokok

Oalah, ada-ada saja pria satu ini.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

bungkus rokok

Rokok: Kunci Kemenangan Inggris atas Ottoman pada Perang Dunia I

Boleh percaya boleh tidak, ternyata rokok pernah menjadi salah satu faktor penentu kemenangan dalam sebuah perang besar. Kemenangan Inggris atas Ottoman pada perang dunia I, misalnya.

bungkus rokok

Inggris dan Ottoman berhadapan di daerah Palestina pada Perang Dunia I. Peperangan tersebut bergerak sangat lambat, sampai Inggris mendapatkan kabar bahwa prajurit Ottoman sudah kehabisan rokok. Sebagai informasi, saat itu, rokok menjadi salah satu benda yang cukup penting bagi prajurit perang, sebab ia membantu para prajurit untuk lebih rileks dan sebagai sarana hiburan di sela-sela perang.

rokok

rokok

Kabar tersebut dimanfaatkan oleh pasukan Inggris dengan mengirimkan rokok dengan kertas propaganda untuk Ottoman. Namun pasukan Ottoman tidak mempedulikan pesan propaganda tersebut, malah propaganda tersebut dibakar dan kemudian dihisap.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

bungkus rokok

Fotografi Unik dari Tumpukan Bungkus Rokok

Bungkus rokok yang dikumpulkan selama bertahun-tahun bisa menjadi benda seni unik. Hal itulah yang salah satunya dilakukan oleh fotografer bernama Antoine Repesse.

Antoine Repesse adalah fotografer otodidak asal Perancis yang gemar memanfaatkan kemampuan fotografinya untuk mengungkap atau mempertanyakan isu-isu masyarakat.

bungkus rokok

foto rokok

Salah satu karya terkenalnya adalah ‘365 Unpacked’ yang merupakan fotografi menggunakan obyek sampah-sampah daur ulang yang dikumpulkan selama 4 tahun. Di salah satu karya tersebut, dia menyajikan ribuan bungkus rokok yang ditumpuk di sebuah ruangan menyerupai garasi dan sebuah mobil di tengahnya.

bungkus rokok

Di dalam foto yang ia publikasikan, seorang pengemudi sedang merokok dan di bagian belakang serta samping kanan-kiri mobil terdapat tumpukan aneka bungkus rokok berbagai merek.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

bungkus rokok

Mengharamkan Rokok, Tapi Menikmati Dana Pembangunannya

Belakangan ini masyarakat kita dengan mudahnya mengharamkan sesuatu. Tidak cocok sedikit sudah main mengharam-haramkan sesuatu. Padahal hukum halal-haram bukan perkara yang mudah, apalagi bisa dengan gampangnya digeneralisir.

Kecenderungan itu ditanggapi oleh Gus Muwafiq dalam sebuah pengajian di Bontang.

rokok

Kalau dilihat yang baru-baru ini, ada sekelompok orang mengharamkan Pancasila, tapi masih mau hidup di Indonesia dan setiap hari membeli sesuatu pakai uang Indonesia yang tiap lembarnya distempel garuda pancasila.

“Makanya orang-orang ini dosanya tidak ada habisnya, lha wong sudah diharamkan kok dipakai,” katanya.

Hal itu tak jauh beda dengan mereka yang mengharamkan rokok tapi doyan APBN. Rokok diharamkan, padahal cukai rokok masuk APBN. Kalau rokoknya haram, maka APBN haram.

orang merokok

Negara jadinya membangun jalan, maka jalannya haram. Maka orang yang mengharamkan rokok, dosa (jika) lewat jalan itu.

rokok

Penyataan tersebut menegaskan bahwa tidak bisa main-main dengan hukum haram.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

bungkus rokok

Membuat Asbak Sederhana dari Lima Bungkus Rokok

Merokok tapi tidak tersedia asbak bisa menjadi persoalan tersendiri. Terutama untukmu perokok yang cinta kebersihan. Karena abu rokok bisa berantakan terbawa angin dan membuat ruangan jadi kotor.

rokok

Namun, persoalan tidak tersedianya asbak tentu bukan persoalan yang berarti. Kamu bisa membuat sendiri asbak dengan lima bungkus rokok yang kamu miliki. Demikian teknik membuatnya:

Langkah 1: Persiapkan bungkus rokok yang akan digunakan untuk membuat asbak. Terserah, merk apa saja. Semuanya bisa. Kalau sudah, buang kertas aluminium foil-nya.

bungkus-rokok

Langkah 2: Susun 4 bungkus rokok dengan memasukkan ujung bungkus satu ke tutup bungkus lain hingga membentuk persegi.

asbak bungkus rokok

Langkah 3: Olesi bagian bawah keempat sisi asbak dengan lem/perekat, lalu tempelkan satu bungkus yang tersisa sebagai dasar asbak.

asbak bungkus rokok

Mudah banget kan? Silakan dipraktekkan ketika kamu ingin merokok di lokasi yang tidak tersedia asbak atau ingin menghemat uang karena tak mau beli asbak.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

bungkus rokok

Pemantik di Atas Bungkus Rokok Pertanda Apakah?

Pemantik dan rokok adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Seringkali bahkan dikeluarkan bersamaan dari kantong. Sadar atau tidak, kebanyakan orang menempatkan korek api di atas bungkus rokok. Seakan-akan dua benda ini memang sudah satu paket.

rokok dan kretek

rokok

Bila kamu sedang sendirian, meletakkan pemantik di atas bungkus rokok mungkin bukan persoalan. Tetapi, bila sedang berkumpul bersama teman-teman, kebiasaan ini mungkin saja bisa menjadi persoalan. Kebiasaan meletakkan korek di atas bungkus rokok ini tanpa disadari bisa membuat kamu dianggap oleh lingkungan sosialmu sebagai orang yang pelit.

bungkus rokok

Sebab, sebagian orang menganggap hal tersebut adalah pertanda eksklusivitas. Korek api di atas bungkus rokok menjadi peringatan agar tidak mengambil rokok dari bungkusnya.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

rokok dan kopi

Hari Bermula dari Secangkir Kopi dan Sebatang Rokok Kretek

Sejak kapan kebiasaan memadukan kopi dan rokok bermula tak ada yang tahu. Tetapi, keduanya kerap bersanding di meja-meja yang digunakan oleh orang Indonesia.

rokok dan kopi

Meskipun secara teoritik kedua zat yang dikandung oleh kopi dan rokok punya sifat yang mirip, tetapi memadukan keduanya membuat sulit dipisahkan terutama bagi perokok.

bungkus rokok

Penguji citarasa kopi terkemuka di Indonesia pernah menyatakan tidak tahu bagaimana rasa kopi dan rokok bisa bersanding, karena sebagai penguji citarasa, lidahnya tidak diperkenankan menyentuh rokok. Tetapi, dia tidak bisa menyangkal kenikmatan perpaduan keduanya, karena setiap kali berpergian ke daerah mana pun di Indonesia, kopi dan rokok senantiasa bersanding dan dinikmati secara bersamaan.

rokok dan kopi

Keduanya barangkali bukanlah endemik Indonesia. Namun kopi yang ditanam di Indonesia mempunyai kekhasan tersendiri karena menghasilkan karakteristik kopi terkaya di dunia. Sedangkan tembakau yang kemudian menjadi rokok dipadukan dengan cengkeh yang endemik Indonesia, sehingga rasanya berbeda dengan rokok dari belahan dunia lain. Kretek bahkan disebut-sebut mengandung ‘rasa dunia karya Indonesia’.

rokok

Bagi sebagian orang, kebiasaan memulai hari tidak lengkap sebelum tubuhnya mendapatkan asupan dari kopi dan rokok. Sehingga memunculkan candaan, bila satu belum dikonsumsi hanya separo nyawa yang terbawa.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

bungkus rokok

Merek Rokok Nomor Dua: Membidik Pangsa Pasar Merek Terkenal

Bagi orang Indonesia, membuat merk rokok mungkin seperti orang China dalam membuat barang elektronik. Tinggal tunjuk saja merek rokok yang dikehendaki, maka orang Indonesia akan bisa dengan mudah membuat tiruannya. Yah, namanya juga Indonesia, tongkat dilempar saja tumbuh jadi tanaman, hahaha.

bungkus-rokok

Itu pula yang membuat di pasaran banyak beredar merek rokok yang justru diplesetkan dari merek-merek terkenal. Jadi, bukan hanya rasanya saja yang mirip, tapi kemasannya juga.

orang merokok

Tak jarang merek-merek rokok kelas dua ini justru aneh, sehingga siapa pun yang melihatnya akan tersenyum. Tetapi sekilas saja melihat, kamu akan tahu merek rokok apa yang sebenarnya sedang ditiru.

Juragan

rokok juragan

Merek rokok yang membidik pasar Djarum 76 ini diberi merek ‘Juragan’. Merokok merek ini mungkin akan membuatmu seketika serasa menjadi juragan.

NyamSoe

rokok nyamsoe

Dari namanya, dapat diketahui bahwa rokok merek ini meniru rokok Dji Sam Soe yang memimpin pangsar pasar kretek. Rokok ini dibuat mirip dengan itu, tapi dengan tambahan tagline yang menggoda: “Oemoem soedah taoe ini roko’ bagoes diisep s’tiap waktoe pagi, siang, sore, malem.”

LG Bold

Rokok LG Gold

Dari tampilannya saja kita sudah tahu, rokok ini mencoba meniru siapa. Yak, benar, LA Bold. Bedanya, tampilan huruf LA diganti menjadi LG, dengan huruf A yang diputar sedemikian rupa. Aduh, Jangan sampai orang jadi salah sangka sama rokok ini ya, takutnya nanti dikira merk produk elektronik. Hehehe

Gambar ilustrasi: Eko Susanto